Men-diri-kan Indonesia, menegakkan cinta

Reportase Kenduri Cinta Juli 2012: Mendirikan Indonesia

by Kenduri Cinta on Monday, July 16, 2012 at 9:07am ·

Ditulis Oleh: Red/KC

 

“Katakanlah di dalam dunia politik dan ideologi ada kutub-kutub yang baku. Jazz memiliki kemampuan dan keluasan untuk merangkul keduanya dan berbahagia dengannya. Kemampuan jazzy adalah kemampuan di mana dia bisa menyambung keduanya, mampu mencari titik tengah. Jazzy adalah mampu berjalan di sela-sela, karena akan Anda temui bahwa daerah di sela air hujan jauh lebih luas daripada hujan itu sendiri. Begitu pula dengan hidup ini, yang sesungguhnya sedemikian luas; tapi sayang Anda terlalu terkungkung oleh derasnya hujan.”

 

“Apapun kenyataan Indonesia, Anda harus punya Indonesia di dalam hidup masing-masing. Puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita bikin negara yang bukan merupakan kontinuitas dari apa yang kita punya. Negara harus didirikan di atas penemuan-penemuan tinggi yang pernah kita miliki. Mendirikan Indonesia adalah Anda pulang dan Anda punya Indonesia Anda sendiri. InsyaAllah Anda akan diamanati Allah untuk menjadi penegak Indonesia.”

 

 

 

Jumat malam, 13 Juli 2012, terbentuk satu simpul di pelataran timur Ismail Marzuki. Darinya terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran, shalawat Nabi, puisi, lagu-lagu, dan masih banyak lagi hal yang sangat terbuka untuk diambil hikmah darinya.

 

Telah hadir di panggung, Mas Mujib Munawan dari Depok yang membacakan puisi berjudul  Indonesia (1) karya Cak Nun, Mas Inu Febiana – pecinta sepeda, petualang, dan juga ghostwriter beberapa buku, Pak Azis, Mbah Zen, Mas Danar dari SPEAK – Suara Pemuda Anti Korupsi, beserta dengan moderator.

 

Pak Azis bercerita cukup panjang mengenai perjalanan Indonesia sampai tiba pada masa ini. Beliau mengingatkan jamaah untuk menyadari bahwa keterpurukan negara ini disebabkan oleh tingkah borjuis. Untuk dapat bangkit lagi, kita perlu memberdayakan diri. Kita perlu menginventarisasikan masalah-masalah, mengidentifikasikan, dan baru kemudian memetakan solusi-solusi atasnya.

 

Mas Danar memperkenalkan SPEAK kepada para jamaah. Karena korupsi ada di mana-mana, tidak terbatas hanya pada isu-isu berat bernegara tetapi juga pada kehidupan sehari-hari, SPEAK didirikan untuk menyebarkan budaya antikorupsi di dunia anak muda dengan pendekatan pop-culture.  Mereka biasa berkumpul setiap Sabtu di Blok S.

 

Mbah Zen, selaku pelaku sejarah, bersaksi bahwa sebagaimana Islam tidak dapat dipisahkan dari Muhammad, Nasrani tidak mungkin dipisahkan dari Isa, Pancasila juga tidak bisa dipisahkan dari Bung Karno. Pancasila bukanlah dasar, melainkan landasan. Pilar-pilarnya adalah USDEK, sebagaimana tersebut dalam pidato Bung Karno tanggal 17 Agustus 1960.

 

“Ada beda sekitar dua jengkal antara yang di atas dan yang di bawah, yang semoga bukan menunjukkan strata. Pada saat saya berbicara, semua yang di luar diri saya adalah cermin yang akan memantulkan perkataan saya kepada diri saya sendiri,” ujar Mas Inu Febiana.

 

Mas Inu yang sehari-hari selalu bersepeda ke manapun, mengatakan bahwa pertimbangannya sederhana saja, yaitu : memang adanya itu. Bersepeda merupakan kemerdekaan terakhir yang dia punya. Menggunakan sepeda motor berarti harus mengurus ini dan itu, membayar pajak, dan keharusan-keharusan lain.

 

Mas Inu kemudian menyampaikan pendapatnya terhadap poin-poin pertanyaan Cak Nun tentang ‘mendirikan Indonesia’, “Dari dulu kita pernah menjadi adidaya. Pada saat Yunani belum ada apa-apanya kita sudah melanglang buana menghidupi mereka.”

 

“Dari pengalaman saya bersama 7 orang teman yang mengembara dengan dana sangat terbatas, numpang-numpang nginep di rumah-rumah penduduk, saya punya hipotesis sederhana : Orang pedalaman amat sangat ramah bahkan terhadap pendatang asing, sangat berbeda dengan karakter orang kota. Ketika kami kelaparan, mereka tergopoh-gopoh datang memberikan makanan. Sementara beberapa hari sebelumnya, di pinggir jalan kami dianggap sebagai objek pemerasan.”

 

Mas Beben, yang untuk kali ketiga datang ke Kenduri Cinta, menyebut KC sebagai komunitas jazz karena jiwanya. Dengan gitarnya, Mas Beben menganalogikan ‘mendirikan Indonesia’ dengan membangun komposisi full orchestra.

 

“Do..mi..sol adalah sebuah chord, yang jika disambungkan dengan chord lainnya akan menjadi bangunan kalimat. Dari kalimat, dapat dibentuk menjadi lagu pendek. Masyarakat juga harus belajar C itu yang bagaimana; jangan jadi apatis.”

 

Di dalam musik, orkestra dikatakan baik jika dia harmonis, bukan enak atau tidak enak. Harmonis adalah mampu bekerja bersama-sama, di mana not, chord, chord progression, dipimpin oleh konduktor yang baik dan dipercaya dan dimainkan oleh masyarakat yang memiliki knowledge dan kesadaran.

 

Mas Beben kemudian menyajikan dua lagu; yang pertama Yesterday dari The Beatles kemudian disusul dengan Night and Day dari Cole Porter. Setelah itu giliran Mas Aiz Paseba yang menampilkan satu karyanya, dengan sebelumnya berpesan, “Bebaskan bunyi dari beban kulturnya.”

 

Menjelang tengah malam, Cak Nun naik ke panggung. Bersama Beliau hadir pula Cak Fuad, Habib Anis Ba’ayin, dan Syekh Nursamad Kamba.

 

“Saya pengen melanjutkan belajar music pada Bung Beben. Kalau orang musik ngasih informasi pada orang yang nggak ngerti musik, pasti idiom-idiom yang digunakannya adalah idiom musik; begitu pula sebaliknya. Nah, sekarang saya ingin kita belajar musik dengan menggunakan bahasa-bahasa yang kita pahami.”

 

“Kalau diibaratkan kutub, seperti adanya kutub utara dan kutub selatan, atau mungkin ada pula kutub timur dan barat; bagaimana pemetaan musik?”

 

Mas Beben menanggapi pertanyaan pertama dari Cak Nun dengan menerangkan bahwa secara prinsip musik hanya dibagi menjadi dua, yaitu musik dengan pendekatan Barat (popular music) dan world music (musik etnik atau musik daerah). Dalam sejarahnya, pada abad ke-12 musik mulai dikembangkan ketika Paus Gregorius ingin mengembangkan gereja.

 

Mereka menggunakan dan mempopulerkan salah satu penemuan Phytagoras, yaitu pembagian 1 oktaf menjadi 8 not, dengan 12 nada kromatik. Dari major scale ini dikembangkan menjadi 7 warna.

 

“Di dalam musik selain ada tangga-tangga nada, ada pula approach terhadap nada yang menghasilkan cengkok. Puncak pertanyaan saya adalah : Barat kan lurus-lurus. Negro aja yang ngajarin belok-belok. Barat itu yang paling lurus. Ini menunjukkan bahwa mereka paling awam dalam hal ini. Approachterhadap nada bukan hanya berupa cengkok dan lekukan yang berbeda-beda. Orang Indonesia memiliki keluwesan dan keluasan musikal yang bisa merangkum semua musik di dunia. Oleh karena itu, Bung Beben, tolong ungkapkan panjang lebar tentang jazz, karena orang baru akan mengerti dirinya ketika bersama orang lain.”

 

“Saya sudah bikin teori baku bahwa yang cantik dan ganteng itu ya orang Indonesia. Mulai malam ini Anda harus berkaca kembali. Itulah yang disebut nasionalisme sejati. Tapi ya ngomong begini di depan orang bule,” sambung Cak Nun, yang langsung disambut dengan tawa para jamaah.

 

“Katakanlah musik Arab itu satu kutub, musik Jawa kutub yang lain. Barat adalah khatulistiwa. Sunda juga merupakan kutub unik tersendiri. Di mana posisi Jazz? Jazz memiliki approach sendiri yang tidak tergantung pada kutub itu, karena yang membuat dia jazzy adalah caranya dalam meletakkan diri di antara kutub-kutub itu. Tolong Bung Beben koreksi kalau saya keliru.”

 

 

 

Mas Beben kemudian meminta izin kepada Cak Nun untuk sambil bermain musik untuk menjelaskan kepada jamaah, karena dalam beberapa hal, bahasa lisan tidak memadai untuk mendeskripsikan.

 

“Bagi orang Barat, ada dua kutub tadi : musik dengan pendekatan Barat dan musik etnik, yang masing-masing memiliki banyak pohon. Tangga nada diatonik terdiri dari 7 not. Darinya orang Barat menciptakan lagu. Kalau murni Barat, akan terdengar kaku dan datar. Kalau blues nggak pernah muncul di Barat, mungkin di sana hanya aka nada musik klasik dan musik yang lurus dan kaku.”

 

Blues muncul ketika orang kulit hitam di Amerika tidak punya kemungkinan hiburan lain selain menghibur diri dengan musik sambil bekerja. Tangga nada yang mereka senandungkan bukanlah tangga nada diatonic, melainkan tangga nada pentatonik yang terdiri dari 5 nada.

 

“Yang paling hakiki dalam musik adalah manusianya, kemudian baru alat musik. Percobaan untuk mengawinkan musik Barat dan world music adalah pada saat tuning-nya.”

 

“Ada tiga unsur dalam musik, yakni: harmoni, melodi, dan ritmik. Biasanya gitaris klasik menggabungkan ketiganya. Ritmik dari musik blues adalah bahasa tubuh orang kulit hitam. Ketika disuruh menyanyikan solmisasi pun mereka goyang.”

 

“Ada 4 syarat sebuah lagu disebut jazz, yaitu : swing feel, blues note, syncopation (hitungan yang tidak jatuh pada hitungan utama), dan improvisation (ada yang menyebutnya sebagai ‘membuat lagu di atas lagu’ atau ‘membuat lagu baru di dalam lagu’). Jazz adalah manifestasi dari kebebasan, jazz adalah bahagia dengan apa yang dimiliki,” Mas Beben menerangkan.

 

“Katakanlah di dalam dunia politik dan ideologi ada kutub-kutub yang baku. Jazz memiliki kemampuan dan keluasan untuk merangkul keduanya dan berbahagia dengannya. Kemampuan jazzy adalah kemampuan di mana dia bisa menyambung keduanya, mampu mencari titik tengah. Jazzy adalah mampu berjalan di sela-sela, karena akan Anda temui bahwa daerah di sela air hujan jauh lebih luas daripada hujan itu sendiri. Begitu pula dengan hidup ini, yang sesungguhnya sedemikian luas; tapi sayang Anda terlalu terkungkung oleh derasnya hujan.”

 

“Mengenai berjalan di sela-sela, ada satu idiom yang tepat menerangkan hal itu, yakni ummatan wasathan. Kata sifatnya khairul umuri ausatuha. Sebaik-baik perkara adalah yang di tengah-tengah.”

 

“Hidup ini bukan untuk mencari surga, karena surga bukan tempat untuk orang yang mencari surga. Surga adalah tempat untuk orang-orang yang mencari Yang Sejati.”

 

Cak Nun mengajak jamaah untuk bersama-sama melantunkan shalawat Da’uniy diiringi musik blues oleh Mas Beben.

Biarkan aku…

 

Biarkan aku memuji Nabiku

Jangan salahkan aku

 

Menyalahkanku itu haram

 

Usai shalawat blues Da’uniy, giliran Cak Fuad membabarkan tiga poin pada KC kali  ini, yakni tentang penggunaan kalimat thayyibah yang tepat, tentang ummatan wasathan, ,dan tentang angka 7.

 

“Kalimat thayyibah yang paling sering kita ucapkan barangkali adalah InsyaAllah. Kalimat ini sering digunakan untuk menutupi kesalahan kita tidak menepati janji. Dalam Surah Al-Kahfi, Allah memperingatkan Nabi Muhammad dengan agak keras ketika Rasulullah berjanji kepada ahli kitab tanpa mengucap InsyaAllah terlebih dahulu. Ketika itu Rasulullah didatangi dan diuji oleh orang-orang Yahudi mengenai kisah ashabul kahfi. Rasulullah yang tidak tahu mengenai kisah tersebut, mengatakan pada mereka, ‘Besok pagi datanglah kembali ke sini, akan saya jelaskan’. Ternyata sampai waktu itu datang, wahyu tak juga datang.”

 

InsyaAllah merupakan ungkapan akidah bahwa yang tahu apa yang akan terjadi nanti atau besok hanyalah Allah. Perhitungan ilmiah sekalipun, kalau tidak diucapkan dengan kalimat InsyaAllah terasa ada kesombongan di situ. InsyaAllah merupakan kalimat yang semestinya kita ucapkan ketika berjanji untuk melakukan sesuatu di masa datang, bukan untuk sesuatu yang sudah terjadi. Bukan pula cara untuk menutupi niat yang tidak baik, misalnya ketika kita ragu atau sudah tahu tak akan melakukan yang kita janjikan tapi sungkan untuk menolaknya.

 

Kalimat thayyibah berikutnya, Subhanallah atau Maha Suci Allah, bagaimanakah penggunaannya yang tepat? Cak Fuad mengajak jamaah untuk kembali menilik Alquran dalam menggunakan kalimat thayyibah tersebut. Subhanallah dikatakan ketika ada manusia yang berpikir tidak benar mengenai Allah, atau ada manusia yang berperilaku sangat menjijikkan. Maha Suci Allah dari segala yang ada di pikiran kita. Sementara itu MasyaAllah justru semestinya digunakan ketika kita melihat perilaku manusia yang baik.

 

“Rasulullah pernah mengatakan bahwa ada saat di mana kita tidak boleh mengucapkan Alhamdulillah dengan keras, yaitu jika ia akan menyakiti hati orang lain.”

 

Ummatan wasathan (umat penengah) disebutkan di dalam Surah Al-Baqarah : 143. ‘…supaya kamu menjadi saksi kebenaran di antara manusia…’. Wasath bisa berarti ‘sedang’, kebalikan dari ghulluw (berlebih-lebihan). Wasath merupakan sikap tidak berlebihan. Hal ini biasa dikaitkan dengan karakter Yahudi dan Nasrani.

 

Misalnya dalam hal hukuman terhadap orang yang bersalah. Yahudi memberikan hukuman seberat-beratnya kepada orang yang bersalah, sementara Nasrani memiliki ajaran untuk tidak membalas perbuatan buruk orang lain terhadap kita. Sementara Islam mengajarkan ‘balasan atas kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tapi barangsiapa mau memaafkan dan berbuat baik, pahalanya ditanggung Allah’. Kalau ingin membalas, balaslah dengan yang setimpal, tapi jika mampu memaafkan, itu jauh lebih baik. Islam memberikan peluang untuk membalas. Inilah keadilan yang merupakan tugas hakim. Setelah itu Islam mengajarkan akhlak di atas keadilan; yakni dalam bentuk pemberian maaf.

 

Meminta tebusan atas kejahatan orang lain pun tetap harus dilakukan dengan cara yang baik. Jika orang yang menyebabkan kematian, misalnya, tidak punya uang, keluarga korban sebaiknya jangan meminta dalam jumlah yang terlalu tinggi. Sementara orang yang diharuskan membayar tebusan itu disarankan untuk membayar dalam jumlah yang lebih tinggi daripada yang diminta keluarga korban.

 

“Wasath dapat pula diartikan sebagai ‘tidak berlebihan, tapi juga tidak mengabaikan’. Orientasi hidup adalah ke akhirat, tapi jangan lupakan dunia. Carilah kebahagiaan akhirat dalam segala yang kamu lakukan di dunia, tapi jangan lupa terhadap bagianmu di dunia.”

 

Wasath ada pula kaitannya dengan yusrun (mudah). Agama jangan lantas dijadikan beban, karena agama selalu memberikan kemudahan. Ada dosa, ada ampunan. Di samping itu, wasath dapat pula diterapkan dalam sikap tidak berlebihan ketika melihat manusia. Kalau melihat orang baik, jangan dianggap bahwa dia suci. Kalau melihat orang jahat, jangan kira dia hina-dina.

 

Wasath juga berarti toleran. Toleran bukan berarti kehilangan pondasi atau keyakinan. Ayat yang menyebut ummatan wasathan dimulai dari ayat 142 sampai 150, berbicara mengenai pemindahan kiblat. Perpindahan kiblat merupakan ujian iman. Untuk bisa menjadi ummatan wasathan, dia harus terlebih dahulu berdiri pada landasan yang kuat. Toleransi harus ada baik dalam dakwah maupun dalam perang, juga dalam memperlakukan orang jahat. Orang jahat bukan untuk dihardik, dihina, atau dicela.

 

 

 

“Dalam ayat mengenai toleransi dalam perang, disebutkan pada akhirnya bahwa ‘jika kamu mengepung penghuni satu benteng dan mereka menyerah, jangan menerapkan hukum Allah atas mereka, tapi terapkan hukum-hukummu’. Jangan gampang merasa telah menerapkan hukum Allah, padahal jangan-jangan itu hukum kita sendiri. Jangan merasa paling tahu tentang hukum Allah.”

 

Poin ketiga yang dibahas oleh Cak Fuad adalah mengenai angka 7. “Saya lahir tanggal 7 bulan 7 tahun 1947. Dan rupanya, angka 7 selalu menyertai saya. Nomor induk saya ketika di madrasah maupun setelah itu jumlahnya selalu 7. Kode dosen pun 340; jika dijumlah menghasilkan angka 7. Sejarah hidup saya tidak lebih dan tidak kurang dari 7. Di SD saya tidak dapat ranking, tapi selalu sedikit di atas rata-rata. Kurang lebih ya angka 7 lah.”

 

“Ketika aktif dalam organisasi di Gontor, saya anggap menjadi ketua ranting itu 6 dan ketua cabang itu 8. Saya berada di tengahnya. Ketika itu merintis majalah berbahasa Arab, tetap 7 nilainya. Setelah lulus dari Gontor saya tidak diangkat menjadi guru.”

 

“Bukan saya mematok diri saya hanya 7, melainkan saya syukuri sudah diberi patokan angka 7. Rezeki pun juga begitu. Pokoke cukup, pas-pasan, nggak pernah lebih. Setiap orang harus memaknai secara positif atas setiap tanda yang Allah berikan padanya.”

 

“Kita doakan mudah-mudahan Cak Fuad bida agak sering juga ke sini. Kali ini datang juga Mbah Sudjiwo Tedjo,” ujar Cak Nun. “Kalau angka itu puncaknya 9, Rasulullah adalah manusia 9 yang mentujuhkan diri. Beliau 9 segala-galanya. Infinity, karena bersambung dengan Allah, tapi Beliau mentujuhkan diri, bahkan ketujuhannya itu dilegitimasi oleh Allah dengan ungkapan ‘an-nabiy al-ummiy’. Badannya juga ditujuhkan oleh Allah.”

 

“Secara ekonomi Beliau 9, tapi 95% uangnya disalurkan ke UKM-UKM di Madinah sehingga ketika Beliau hijrah, Madinah sudah terstruktur. Kalau Cak Fuad mengatakan bahwa saya 9 dan dia 7, itu ‘kan kebaikan seorang kakak kepada adiknya. Saya kira angka 7 ini terapan dari ummatan wasathan. Kejadian-kejadian besar terjadi pada putaran 7.”

 

“Tadi ada seseorang dari atas Gunung Merapi yang secara tiba-tiba mendapatkan bendera merah putih yang kainnya bukan seperti kain pada umumnya, dan juga sebuah keris untuk diamanatkan kepada Sultan. Keris itu bukan untuk Sultan, melainkan harus disampaikan kepada orang yang tepat oleh Sultan. Bersamanya ada catatan bahwa sekarang sudah hampir mamasuki putaran 7 yang ketiga kalinya.”

 

“Kita sedang akan memasuki 700 tahun yang ketiga. 700 yang pertama adalah pada masa Sriwijaya; yang satu zaman dengan Rasulullah. 700 yang kedua adalah ketika Sunan Kalijaga merombak kesatuan Majapahit menjadi federasi Demak. 117 anak Prabu Brawijaya V dijadikan pemimpin dalam tanah-tanah perdikan. Meskipun eksperimentasi negara federasi gagal, perlu kita pelajari watak federal atau commonwealth itu, di mana tidak ada linking-up. Yang ada adalah koordinasi.”

 

“Kenapa sekarang untuk jadi gubernur harus lewat parpol? Kalau kita memilih gubernur secara langsung, untuk apa parpol? Kenapa bukan dengan panitia negara saja? Orang yang lewat partai, pasti telah melalui proses tawar-menawar yang luar biasa.”

 

“Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang disebut namanya oleh rakyat. Untuk praktisnya, bisa dengan KPU tapi dikontrol dengan benar. Setiap orang bisa memilih melalui e-mail dengan memasukkan kode KTP dan menentukan pilihannya. Jumlah terbanyak yang akan menjadi gubernur, dan jumlah kedua terbanyak yang menjadi wakilnya. Wakil kok nggolek dhewe?

 

Habib Anis Ba’asyin terlebih dahulu meminta jamaah untuk dengan ikhlas membaca Al-Fatihah, yang masing-masing boleh menujukannya untuk kebaikan siapa saja. Habib Anis menggarisbawahi ‘keliru mengartikan’ dalam masyarakat kita sekarang ini.

 

“Kita pernah merdeka nggak? Yang menjadi amsalah pokok adalah bagaimana kita menemukan diri yang sebenarnya, dan terus-menerus berproses untuk itu. Semua yang berhenti berproses adalah comberan. Semua sistem peradaban ini salah, karena tidak memberikan kesempatan bagi manusia untuk berkembang.”

 

Mbah Sudjiwo Tedjo menyambung uraian dari Habib Anis dengan cukup singkat, “Kalau pemimpin masih mencalonkan diri ya berarti dia bukan pemimpin. Regenerasi yang nggak demokratis apa ya? Sayanggak setuju sama demokrasi, karena saya nggak percaya pada benernya orang banyak.”

 

“Pemimpin yang punya harga diri adalah pemimpin yang tidak tega menawarkan diri,” lanjut Cak Nun, “Pertimbangannya bukan mau atau tidak mau, melainkan kewajiban. Apapun kenyataan Indonesia, Anda harus punya Indonesia di dalam hidup masing-masing. Puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Kita bikin negara yang bukan merupakan kontinuitas dari apa yang kita punya. Negara harus didirikan di atas penemuan-penemuan tinggi yang pernah kita miliki.”

 

“Orang Jawa tanpa wahyu telah melakukan religiusisasi, mencari tuhan sampai mereka bertemu dengan Sang Hyang Tunggal yang juga Wenang. Anda tahunya yudikatif. Anda tidak kenal sama staf legislatifnya Allah yang mengatakan, “Tolong cari orang, dan harus dari Jogja, yang akan menengahi”. Sultan HB IX menikahi Ibu Norma. Beliau tahu persis bahwa sejak Sultan HB V, jika ditarik trahnya lari ke Bu Norma.”

 

“Jawa itu yang paling tinggi, selapis lagi sudah Islam. Orang Jawa sekarang tidak menyadari bagaimana hidup di tengah puncak peradaban. Yang saya maksud Jawa bukan Jawa yang sekarang, melainkan Jawa yang juga Sunda dan kebudayaan-kebudayaan lain.”

 

Syekh Nursamad Kamba berpesan bahwa dalam mendirikan Indonesia, yang sangat penting adalah tauhid, yaitu mensinergikan diri. Kesalahan yang paling mendasar yang kita lakukan adalah kita berlari menjauh dari karakter kita sendiri.

 

“Di dalam frasa ‘mendirikan Indonesia’ ada tiga hal yang mesti diperhatikan. Pertama : diri. Mendirikan berarti menjadikan Indonesia dirimu. Kedua : qada dan qadar-Nya Allah. Mendirikan Indonesia berarti kita sedang berproses menaati qada dan qadar-Nya. Ketiga : Yuk kita bebaskan diri dari nama Betawi, Jawa, Sunda; kita sebut sebagai Nusantara. Kita satu leluhur yang sangat kuat.”

 

“Percayalah bahwa sekarang sedang terjadi rekonsiliasi leluhur. Pelajarilah rekonsiliasi leluhur itu dan ambillah kebaikan dari berita itu. Mudah-mudahan koran-koran dan televisi diberi hidayah; karena merekalah penghalang nomor satu terhadap perubahan Indonesia.”

 

“Mendirikan Indonesia adalah Anda pulang dan Anda punya Indonesia Anda sendiri. InsyaAllah Anda akan diamanati Allah untuk menjadi penegak Indonesia.”

 

Menjelang pukul tiga dini hari, Cak Nun meminta Mbah Tedjo berkolaborasi dengan Mas Beben. Yang terjadi kemudian adalah saling guyon dan saling lempar ejekan di antara para sesepuh.

Setelah itu Cak Nun mengajak jamaah berdiri, berdoa bersama, dilanjutkan dengan tumpengan dalam rangka syukuran memperingati hari lahir Kenduri Cinta yang kedua belas. (Red KC/Ratri Dian Ariani ,Dok Foto: Agus Setiawan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s