Cerita Senja 28 Januari 2012

Cerita Senja…
cerita otentik dari Kanjeng Mujib Munawan, Sabtu, 31 Januari 2012, 17.30

Angin senja semakin terasa dingin meniup tubuhku yang basah oleh keringat, namun aku masih saja bersemangat mengejar bola bundar yang tak pernah protes ditendang kesana kemari.

“ Hei kalian… !” seru seseorang di pinggir lapangan.
Dengan spontan kami pun menoleh mencari sumber suara.
“ Ustadz Andri sudah di kelas, kita masih ada 2 presentasi lagi untuk civic education dan sudah dimulai dari pukul 05.00 tadi” jelasnya.

Mendengar penjelasannya, kami pun tersentak. Memang ada pengumuman sebelumnya jika jadwal perkuliahan civic education yang biasanya setelah maghrib, kini telah dimulai sejak pukul 05.00 sore. Tapi berhubung keasyikan main bola jadi kelupaan deh.
Akhirnya, beberapa teman menanyakan apakah kita akan pulang? Tapi aku jawab setarh kalian. Kalau aku sih males. Tapi aku g enak juga, akhirnya aku dan teman lainnya pun membubarkan diri tanpa dikomando. Ternyata kami diberi dispensasi dengan mengisi absensi tanpa mengikuti perkuliahan.

Maghrib pun tiba, dengan kaos berhias tanah dan bau keringat yang khas, aku pun memutuskan hanya mengganti celanaku untuk dapat segera menemui ustadz. Hingga akhirnya aku telah berdiri di pintu kelas, dengan malu-malu aku perlahan masuk dan memasang senyum mencoba menyapa ust. Andri.

“ Assalamu ‘alaikum tadz, maaf mau absen” kataku dengan  tersipu malu.
ust. Andri melihat ke arah ku dan berkata “ Kamu yang namanya Mujib Munawan?”
“Iya tadz” jawabku
“kamu belum mengumpulkan tugas tiga minggu lalu” terangnya dengan wajah dingin. Aku pun mengangguk mengiyakan.
“saya tunggu dan kamu kerjakan sekarang juga” lanjutnya.

Waduuhhh… itu artinya aku harus mencari nara sumber yang bisa ku lempari pertanyaan sekarang juga. Tiba-tiba ku teringat kalau satpam yang bernama Indra adalah kepala RT setempat. Aku pun bergegas mencarinya, namun yang ku temukan di pos satpam hanya teman seperjuangannya yang biasa ku panggil “babe”

“Babe… Pak Indranya ada?” tanyaku
“ Tau tuh..belum datang kayaknya” timpal babe
Gubraaakkk…. semangatku sedikit luntur tapi ku pantang menyerah (udah kepepet soalnya hehe)
“ Be… kalo ku wawancara ma babe bisa ga be?” tanyaku sedikit memelas.
“ masalah apa neh?” babe balik bertanya.
“masalah RT be….” jawabku
“ Wahhh gak mau, saya bukan asli sini jadi kurang tau” tolak babe.
“Kalo mau wawancara ma dia noohh… dia mantan RT” sambungnya lagi sambil mengarahkan wajahnya pada staf rektorat yang lewat.

Yuhuu…Semangatku pun kembali terisi. Tanpa ku sia-siakan waktu, segera ku hampiri staf rektorat yang bernama Tismat Abdul Hamid..

“Maaf pak… boleh minta waktunya untuk wawancara” tanyaku langsung
“ Wawancara apa?” timpalnya.
“ Soal RT,,, Katanya bapak ini mantan kepala RT di sini, benar pak?” tanyaku menyusul.
“Oh… iya benar, bahkan sampai sekarang saya masih menjabat sebagai kepala RT” jawabnya tanpa ragu.
“ Sampai sekarang pak?”
“Iya… sampai sekarang saya masih menjadi kepala RT… kepala RUMAH TANGGA!” jelasnya tanpa rasa bersalah.

Seleketepp…becandanya jelek hehe.. Ternyata humoris juga sosok pak Tismat ini.
Ku lanjutkan dengan pertanyaanku tentang jabatannya yang sekarang, namun kali ini dengan lebih seksama ku perhatikan antara pertanyaan yang kulontarkan dengan jawaban yang diberikannya. Maklum… aku tak mau terjebak untuk kedua kalinya *-* Ternyata kali ini dia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang sekretaris.

“Sekretaris desa maksudnya pak? tanyaku
“Bukan…sekretaris RT” timpalnya sambil mrenges
“Bener ini Pak?” tanyaku tak yakin, namun ternyata jawaban Pak Tismat kali ini jujur bukan jebakan hehe..

Akhirnya, setelah ada kepastian soal kedudukan Pak Tismat, aku meminta untuk mewawancarainya dan beliau bersedia. Kami pun memilih tempat di depan perpustakaan agar lebih representatif.
Sesi wawancara pun dimulai tapi….. aku lupa apa yang harus ku tanyakan,,, OH NooOO…
Dengan menyembunyikan wajah kebodohanku, aku coba memulai wawancara dengan menanyakan alamat Pak Tismat
(BrakKK.. untuk apa ku tanya alamat).. lirih batinku
(Ah tak apa nanti juga pasti nyambung ke pembicaraan yang ku tuju…) sambungku dalam hati.
Layaknya polisi yang sedang mengintrogasi, ku hujani Pak Tismat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa yang menjabat RT sekarang, visi misi, berapa jumlah penduduk, program RT mulai dari harian, mingguan, bulanan, bahkan yang annual. Selain itu ku tanya juga kegiatan jika hari besar tiba, jadwal ronda, kebersihan, KTP, BLT, hingga kesejahteraan penduduk.

(Baru ku sadar, ternyata keren juga pertanyaan-pertanyaan yang ku lontarkan),,preeetttt
(ternyata ilmuku datang jika ku kepepet) hehe..
Pak Tismat pun menjawab apa yang ku tanyakan dengan cukup rinci dan aku terlihat layaknya wartawan TV internasional (LOKALL KALII) dengan mencatat poin-poin yang Pak Tismat ucapkan.

Waktu berlalu dengan cepat hingga aku pun sampai pada pertanyaan yang sejak dulu menggelayut dalam benakku bahwa bagaimana cara negara melindungi hak-hak rakyatnya yang nota bene penggaji para pejabat di negeri ini.

Setelah ku hujani dengan beribu-ribu pertanyaan (LebaYY), Pak Tismat terlihat capek. Ku akhiri sesi wawancara ini dengan mengucapkan terima kasih kepada Pak Tismat. Aku pun segera berlalu untuk bergegas menyalin hasil wawancaraku.

Kertas dan alat tulis sudah ada di hadapanku, saat bersiap tuk menyalin, aku terperangah..
WAwwWWW…. ternyata ku berbakat jadi dokter yang lihai menulis resep untuk pasiennya tapi akupun adalah apoteker yang mahir mebaca tulisan dokter yang terlihat bagai sandi rumput…
Dengan terbata-bata, akhirnya hasil wawancara tadi ku kembangkan menjadi sebuah laporan yang tersusun rapi.

Jam di hp-ku menunjukkan pukul 19.00 Aku pun segera berlari menuju kelas di mana ust. Andri sebelumnya berada. Tapi ternyata… KosoOng..
Ku cari di kantor rektorat, yang ku temui hanyalah Pak Tismat. Ku tanya padanya tentang keberadaan ust. Andri dan ternyata ustadz sedang shalat..
fiuhhh…aku lega mendengarnya. Setelah ust. Andri keluar, langsung kuserahkan padanya laporan hasil wawancara yang notabene adalah tugasku tiga minggu yang lalu..weww parah.
Dengan muka agak dilipat, ust. Andri membolak balik kertas yang ku serahkan entah karena tak percaya atau heran atau apalah yang ada dibenaknya. Ku lihat tugas teman-teman yang lain yang dijilid rapid an yang mereka wawancarapun adalah lembaga atau institusi besar.

Ahhh ku pe-de saja yang penting aku mengumpulkan tugas dan akhirnya ku diabsen hidup-hidup meskipun telat. Aku pun segera pamit sebelum masalah yang tak terduga  muncul.
Hmmmm… cerita senja hari ini ku tutup dengan mandi, shalat, makan dan bermain musik..

Sawangan Depok, 28-01-2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s