Seni Air Seni

Seni merupakan puncak kreasi dan imajinasi seorang seniman. Seni sejatinya adalah refleksi dari berbagai fenomena maupun kenyataan hidup yang menginspirasi seseorang untuk menuangkannya kembali ke dalam sebuah karya yang bisa dinikmati oleh orang lain. Seni menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, setidaknya setiap manusia kemana-mana sangat setia membawa air seni dan menerimanya sebagai bagian hidupnya. Seni tidak hanya terbatas dimiliki oleh dunia seniman. Seni tidak saja berujud seni suara, seni kriya maupun seni rupa. Di dalam ilmu pengetahuan ada seni. Di dalam rumah tangga ada seni berumah tangga. Di dalam politik ada seni berpolitik, seni lobi-lobi, seni beretorika, bahkan seni mengelabuhi lawan politik. Di dalam ekonomi ada seni berdagang. Di dunia rancang bangun ada seni arsitektur. Di ranah manajemen ada seni perencanaan, seni kepemimpinan, seni pengorganisasian dan lainnya. Di dunia kependidikan ada seni mengajar, juga seni belajar. Di ketentaraan ada seni perang yang pernah dituliskan oleh Jenderal Tsun Zu. Bahkan di wilayah dunia kriminal ada seni mencuri, merampok, termasuk seni mencuci uang dan seni korupsi. Seni menjadi puncak kreasi, karsa, karya, dan cipta manusia dalam berbagai bidang kehidupan yang digeluti manusia. Kerena seni merambah semua bidang kehidupan manusia, maka dalam pemaknaan luas, setiap manusia dapat melakukan seni-seni tertentu dalam arti trik-trik melakukan sesuatu. Trik-trik tersebut diperoleh berdasarkan pengetahuan maupun pengalaman dari sebuah tindakan yang telah berjalan sekian lama dan menjadi rutinitas seseorang. Inilah yang menyebabkan seni menjadi bersifat universal dan humanis bagi keseluruhan makhluk hidup yang bernama manusia. Seni melekat ke dalam fitrah hidup manusia, sebagaimana keberadaan air seni yang menyertai metabolisme biologis tubuh manusia. Semua manusia memiliki kecenderungan mencintai keindahan sebuah karya seni. Seni dalam pemaknaan sempit adalah seni yang ditekuni oleh para seniman. Meskipun semua orang memiliki fitrah dan darah seni yang mengalir di dalam setiap nadi darahnya, namun tidak semua orang bisa menangkap inspirasi seni, menerjemahkan, kemudian mengungkapkan atau merefleksikannya menjadi bentuk karya yang indah dan dapat dinikmati orang. Dengan demikian, orang awam di mata sebuah karya seni bersifat pasif dan sekedar menjadi penikmat seni.
Sedangkan seorang seniman menjadi pemrakarsa bagi lahirnya sebuah karya seni. Di sinilah perbedaan nyata antara manusia kebanyakan dengan seorang seniman. Kenapa tiba-tiba saya yang jelas-jelas orang yang awam dalam seni, dan jelas bukan seorang seniman, berbicara tentang seni? Kita semua barangkali masih segar mengingat pemberitaan keluarga petinggi negeri ini meluncurkan ”karya seni” mereka. Sang Ibu Negara meluncurkan karya fotografinya, sedangkan sang suami menyusul dengan melauncing album karangannya, Harmoni Alam, Cinta, dan Kedamaian. Siapapun memiliki kesempatan untuk mengekspresikan jiwa keseniannya. Tidak lebih dan tidak kurang bahwa keluarga petinggi negeripun juga manusia biasa yang tidak bisa lepas dari fitrah seni, maka peluncuran karya seni mereka berdua adalah sebuah kejadian yang wajar-wajar saja. Adalah suatu keluarbiasaan jikalau seorang presiden dengan jam kerja yang sangat padat dan super sibuk, masih memiliki kesempatan untuk merenung, menggali inspirasi dan menuangkannya menjadi karya seni. Bahkan banyak kalangan seniman yang kagum dengan SBY yang sudah keempat kalinya membuat album. Tak kalah seorang Iwan Fals mengungkapkan SBY layak menjadi delapan keajaiban dunia. Apakah kita selayaknya bangga memiliki pemimpin yang mampu membuat syair lagu saja? Hal yang wajar, terutama di negeri ini, menjadi tidak wajar bila sudah dikontaminasi dengan racun politik. Semua hal yang dipolitisir menjadi kehilangan makna. Politisasi agama menjadikan agama kehilangan ruh keilahiannya. Politisasi hukum menjadikan hukum sebagai sekedar sebuah mata pisau yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, alias hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil dan bisa dibeli orang orang kaya. Politisasi pendidikan menjadikan pendidikan sebagai komersialisasi kapital sehingga kian sulit terjangkau oleh tangan rakyat awam. Demikian halnya politisasi di bidang seni, bahkan kebudayaan, menimbulkan esensi seni sebagai refleksi keindahan menjadi kabur dan tanpa makna. Seni sekedar menjadi alat untuk kepentingan penguasa dan melanggengkan kekuasaan. Politisasi-politisasi apapun bidang kehidupan kita hanya berujung pencitraan sesaat yang kemudian menyesatkan mata awam. Seni memang menjadi hak dan fitrah setiap orang. Namun sebagai rakyat awam yang turut membayar pajak untuk tegaknya roda pembangunan di negeri ini, justru saya menjadi bertanya apakah tugas utama seorang presiden untuk memimpin negara ini telah ditunaikan dengan baik? Apakah ”pengejaran” predikat sebagai seniman tidak melalaikan tugas kenegaraan? Papua terus bergolak! OPM kian ofensif dalam mengacaukan keamanan. Freeport dicekam konflik buruh dan perusahaan yang belum mendapatkan titik temu. Urusan perbatasan Camar Bulan tidak jelas juntrungannya! TKI-TKW kita di luar sana tidak terlindungi dengan baik. Pendidikan kian mahal, biaya kesehatan kian tak terjangkau, petani nelayan kita kian dimiskinkan oleh kebijakan pembangunan. Rakyat kecil semakin tak menjangkau kebutuhan hidupnya. Kasus Century, Wisma Atlet, dana di Nakertrans, Nazarudin, Nunun, semua masih beraport merah. Masihkah wajar bila sang presiden tidak lebih mengutamakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai panglima pembangunan? Daripada mencitrakan diri memiliki jiwa seni dan dapat menciptakan sekian syair lagu nasionalisme, apakah tidak lebih baik presiden kita menuangkan jiwa seninya ke dalam seni mempimpin kabinet? Bagaimana ia mengelola tim kerjanya secara optimal, efisien, cepat, dan tepat sasaran menurut hemat saya jauh lebih penting! Negara berada dalam keadaan carut-marut kerancuan hukum, politik, ekonomi dan sekian bidang yang lain. Adalah tepat apabila presiden mengeluarkan jurus seninya untuk mengatasi setiap masalah negara. Apakah benar jika dengan sang presiden meluncurkan album dapat menggairahkan dunia seni yang katanya tengah lesu? Lihatlah di desa dusun kita, di akar rumput paling pelosok negeri ini, rakyat dengan kesadaran diri mengembangkan seni berlandaskan kekayaan adat dan nilai kearifan lokalnya. Lihatlah ndayakan, topeng ireng, campur sari, kethoprak, hingga ndangdutan, semua menggeliatkan diri tanpa dimotivasi oleh SBY sebelumnya. Kalaulah seni yang lesu itu disempitkan khusus untuk seni tembang karena maraknya kasus pembajakan karya, bukankah sebagai seorang presiden ia dapat melakukan penegakan hukum untuk memberantas tuntas mafia pembajakan tersebut? Seorang presiden didudukkan sebagai presiden, karena harapan rakyat ia mampu mengemban tugas besar sebagai presiden. Jikalaupun presiden ingin mengekspresikan jiwa seninya, berkaryalah secara elegan sebagaimana kapasitas seorang negarawan dalam berkesenian. Seninya seorang presiden adalah seni demi kepentingan negara, bukan seni pencitraan sesaat. Pekerjaan pokok seorang presiden adalah sebagai politikus. Seorang politikus disebut politikus karena ia mengerjakan pekerjaan politik, bukan karena ia berkesenian. Semua profesi memiliki ladangnya masing-masing, jangan terkesan presiden menggusur ladang kaum seniman sejati! Akan lebih tepat bila presiden menguasai seni merumuskan visi misi negara ke depan, seni merencanakan program pembangunan, seni menegakkan hukum, seni meratakan keadilan ekonomi, seni membina stabilitas dan keutuhan negara, seni mengentaskan kemiskinan, seni memerangi kebodohan, seni memberantas korupsi. Seni-seni tersebut adalah seni yang harus dikuasai seorang pemimpin besar yang diharapkan mampu memajukan setiap sektor kehidupan negara. Bukan hanya seni menyusun syair untuk sekedar pencitraan diri dan dinasti. Dan tokh tidak banyak rakyat yang mengerti dengan lagu-lagu SBY, dan menganggapnya menjadi penting! Ada prioritas yang lebih prioriti untuk dilakukan oleh seorang presiden! Semua harus empan papan, proporsional sesuai kedudukan, terlebih kepatutan konteks ruang dan waktu yang tepat. Seni tidak sekedar air seni! Lor Kedhaton, 4 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s