Sinetron(Islami?), dan Pendangkalan Tauhid

Oleh Imron Supriyadi

Suatu ketika, Mirza seorang bocah berumur 6 tahun tiba-tiba menerobos kerumunan sebagian jamaah di sebuah masjid yang hendak menyalami Ustadz Muis Zakaria, yang baru  selesai ceramah. Tanpa mengalami kesulitan, Mirza berhasil menyalami Ustadz Muis. Tetapi karena tangannya tidak dilepaskan, kontan saja Ustadz Muis heran. Dia hanya tersenyum dan mengelus kepala Mirza.

“Pak Ustadz, boleh saya minta tasbih yang ustdaz pakai?”, Tanya Mirza yang membuat kaget para jamaah. Ustadz Muis tersenyum dan berkata,

“Boleh. Tapi untuk apa?” selidik Ustadz Muis.

”Supaya kebal dan dapat mengusir syetan seperti di tivi itu Pak”.

**

Fragmen diatas, bukan sekedar pepesan kosong. Sebab bukan tidak mungkin, besok, lusa atau bahkan bulan depan, salah satu putra-putri kita tiba-tiba minta dibelikan tasbih atau sorban, hanya lantaran ingin kebal dan mengusir syetan sebagaimana yang ditonton di televisi. Seorang Mirza adalah salah satu dari sekian juta anak bangsa ini yang telah menjadi korban pendangkalan tauhid yang telah ”diajarkan” televisi melalui tayangan sinetron, yang konon menurut beberapa pihak disebut sebagai sinetron Islami.

Di satu sisi, mungkin kita patut bersyukur karena diantara sekian banyak tayangan sinetron yang menawarkan hedonisme, konsumtifisme dan materialisme, masih ada diantara sineas kita yang berupaya melakukan counter budaya melalui garapan sinetron (islami?). Tetapi di sisi lain, berbagai bentuk tayangan yang disebut-sebut sebagai  tayangan sinetron islami ini, justeru menghasilkan produk yang jauh dari tujuan semula.

Sinetron (islami?) yang seharusnya memberikan ”petuah” terhadap nilai-nilai tauhid, justeru berbalik melakukan proses pendangkalan ke-tauhidan dan aqidah itu sendiri. Nilai-nilai ilahiyah (ketuhanan) dan keyakinan (aqidah) yang seharusnya dikedepankan, malah diporakporandakan dengan berbagai bentuk adegan mistik dan klenik. Belum lagi, sosok ustadz, kiai dan tokoh agama disimbolkan dengan sorban, peci, atau yang perempuan dengan jilbab dan cadar.  Saya tidak sedang mendebatkan soal peci, sarung, sorban dan jilbab. Tetapi ketika ajaran Islam hanya dipahami secara parsial dan terpenggal-penggal, maka yang muncul kemudian adalah; Islam selalu identik dengan sorban, jenggot, peci dan sejenisnya.

Ustadz = Si Pitung?

Ditambah lagi, figur seorang ustadz dan kiai disimbolkan sebagai penyelesai akhir dari sebuah persoalan. Kalau penyelesaian akhir adegan ini kemudian dengan rasionalitas dan melalui pendekatan ketauhidan dalam konteks sosial, sedikit banyak dapat memberikan pencerahan. Namun yang muncul dilayar kaca adalah; kiai dan ustadz tak lebih sebagai ”si pitung” yang selalu menyelesaikan persoalan dengan perkelahian, kekerasan. Adegan laga dalam tayangan sinetron boelh saja terjadi. Tetapi memunculkan sosok ustadz dan kiai dengan menggunakan sorban dan tasbih untuk memerangi syetan, juga menjadi bagian dari proses penyesatan nilai-nilai ketuhanan bulat-bulat terhadap anak bangsa ini.

Ironisnya, hampir di setiap sinetron (islami?) itu beberapa sosok ustadz yang ”berkelas” sering menjadi penggagas, konsultan atau sebagai penasehat. Lha kalau ustadz dan kiai-nya saja sudah menjadi backing sinetron islami yang menyesatkan seperti itu, apa sikap ini tidak lebih menjadi bahaya laten, ketimbang aparat dan pejabat yang menjadi backing judi dan pencurian kayu?  Kalau judi dan mencuri kayu mungkin hanya kerugian fisik. Lha kalau ”sinetron sesat”,  dampaknya jelas pada mentalitas generasi bangsa ini.

Dalam tulisan ini, paling tidak ada beberapa hal yang sepertinya layak dijadikan bahan renungan—sekalaigus sebagai jawaban, kenapa wajah sinetron (islami?) di Indonesia terjebak pada dunia klenik dan mistik.

Pertama; Tradisi ketimuran. Dalam konteks ke-Indonesiaan kita memang tidak lepas dari dunia mistik dan klenik. Menjadi sebuah kebiasaan dalam tradisi Jawa, jika setiap malam 1 Suro (1 Muharram) ada saja kegiatan mistik yang dilakukan, seperti mencuci keris dengan air yang diurai dengan kembang tujuh warna, persembahan kepada Nyi Roro Kidul, yang dipercayai sebagai Ratu Laut Selatan, juga masih terus menjadi fenomena yang sulit dihapus. Dalam konteks per-sinetron-an, kita juga disuguhi tayangan film ”Sunan Kalijaga” tahun 80-an atau film sejenis, yang mendepankan ”karomah”, (ke-istimewaan yang diberikan kepada seseorang karena kedekatannya kepada Tuhan), kemudian menjadi legitimasi kalau setiap ustadz dan kiai juga memiliki ”kekuatan” sama dengan Walisongo. Tidak salah memang, jika diantara sekian banyak ustdaz dan kiai juga masih ada yang mendapat ”karomah” itu. Tetapi mengemas ”karomah” dengan adegan kekerasan dan menggunakan tasbih dan sorban sebagai sarana untuk mengusir syetan, sangat terbuka lebar menciptakan opini, betapa tasbih dan sorban kiai dan ustadz-lah yang sakti madraguna. Disinilah secara tidak disadari, tayangan ini sedang malakukan ”pembunuhan” terhadap nilai-nilai ke-tauhidan dan aqidah.

Mirza adalah salah satu korban dari ”keracunan” sinteron Islami itu. Dan bukan tidak mungkin jika sebagian umat kita juga sudah terjangkiti wabah ini, maka sinetron (islami?) kita sudah menjadi ”bahaya laten”, yang seharusnya segara diluruskan (bukan dilarang). Sebab melarang tayangan sinetron tanpa memberikan solusi, juga menjadi bagian dari ”penjajahan” terhadap hak ekspresi setiap orang. Intinya, ”bahaya laten” sinetron (islami?) itu seharusnya sudah mulai menjadi perhatian serius semua pihak. Sebab, tanpa ada kritik, maka anak-anak bangsa ini akan terjebak dalam kepercayaan terhadap selain Sang Pencipta.

Membiarkan generasi bangsa ini terlarut dalam ”kedangkalan tauhid”, maka sama saja kita sedang mebiarkan anak-anak bangsa ini kehilangan pegangan hidup. Yang timbul kemudian bukan keyakinan terhadap Dzat yang serba Maha, melainkan melahirkan generasi ”cilandak” alias cinta ditolak dukun bertindak, yang percaya kekuatan mistik tasbih, peci dan sorban. Naudzubillah.

Kedua; Proses Politik. Terjadinya pergesaran nilai-nilai kebaikan kepada penyesatan dalam konteks sinetron kita, juga sebagai akibat proses politik di Indonesia, yang cenderung ”melarang” tayangan sinetron bermuatan ”kritis”. Hampir setiap tahun ada saja karya para sineas kita yang dilarang tayang, karena dinilai akan mengganggu stabilitas nasional. Contoh saja; sinetron yang didalamnya menceritakan tertangkapnya seorang polisi yanag menjadi backingjudi, atau tertangkapnya seorang anggota DPR yang memalsukan ijazah. Karya-karya seperti ini, sudah dapat dipastikan tidak akan lolos sensor. Sebab paradigma lembaga sensor juga masih sangat Orbais. Sehingga ketakutan dalam konteks kultur feodal itu masih sangat kentatara.

Apa yang kemudian dilakukan oleh para kreator sinematografi? Mereka terpaksa mencari ”selamat”, dengan menggarap mitos-mitos Walisongo, Nyi Roro Kidul dan lain sebagainya, tanpa menyadari ”bahaya laten” tayangan itu terhadap nilai-nilai ilahiyah.

Ketiga; Peluang Bisnis. Sudah menjadi rahasia umum, negeri ini dihuni oleh 80 persen beragama Islam. Bagi para pebisnis sinetron, persentase ini sudah pasti menjadi peluang bisnis. Maka tanpa komando, sebagian umat islam di Indonesia kemudian terbius oleh tayangan sinetron (islami?) itu. Oleh karena sinetron sifatnya monolog (satu arah), maka ketika bentuk penyesatan via sinetron itu merangsek ke rumah-rumah, sebagian umat islam menanggapinya dengan dingin. Bahkan sebagian lagi antusias, lalu meng-acungan jempol, tanpa mengkaji ”bahaya laten” sinetron itu sendiri. Padahal, dibalik pesan moral yang sedang ditawarkan, tayangan sinetron (islami?) itu menyimpan ”duri tajam” yang siap merobek aqidah dan ke-tauhidan umat Islam. Oleh sebab itu, keberhati-hatian dalam memilih tontonan yang dapat menjadi tuntunan juga menjadi bagian tanggungjawab setiap kita.

Keempat; pemahaman terpenggal. Pemahaman ”islami” yang terpenggal, juga sebagai akibat munculnya sinetron islami yang menyesatkan. Kalimat ”Islami”, sebuah kata yang seharusnya memerlukan penelitian ulang, sehingga kata ”islami” ini tidak disalah-artikan.  Sebab, memaknai ”islami” dengan pandangan satu arah, justeru dapat mencerabut esensi dari ajaran agama Islam itu sendiri. Diantara sineas, para pelaku seni yang mencantumkan lebel ”Islami” ini, sepertinya tidak memahami kedalamannya, sehingga yang muncul adalah karya yang ”krisis ideologi” untuk selanjutnya membiaskan pesan moral dari ajaran islam itu sendiri.

Dalam konteks ini, ada sebuah pertanyaan yang dapat menjadi bahan renungan bagi setiap kita. Sinetron ”Islami”; apakah sebuah tayangan yang mesti mengangkat kisah-kisah sahabat rasul, Walisongo, dan pemainnya berjilbab, atau dalam dialognya harus ada ”kalimat Tuhan”, dengan melibatkan pemain non Islam? Atau Islami dalam konteks ini lebih mengedepankan pada pesan dan muatan nilai, bukan pada ”islam simbol”?

Kalau pemahaman ini saja tidak selesai, maka sudah dapat dipastikan, sebagian sineas muslim atau bahkan dai dan kiai yang ”berkelas” sekalipun, telah salah memahami kalimat ”Islami”. Sebab, Islam bukan pada simbol-simbol kebudayaan semata, seperti jilbab, kubbah masjid, sorban, peci, sajadah, tasbih, melainkan lebih dari itu, Islami ; berarti perilaku, bukan saja gerak fisik tetapi juga gerak batin, yang kemudian mewujud dalam tingkah laku dalam keseharian, tanpa harus mengedepankan tasbih, sorban, peci dan sejenisnya itu. Pemahaman terhadap ”Islami” yang terpenggal inilah yang kemudian melahirkan sebuah karya sinetron, yang bukan saja membiaskan makna kedalaman ajaran Islam, melainkan jauh lebih berbahaya dari itu, wajah sinetron yang disebut-sebut Islami, malah cenderung melakukan ”kampaye” pendangkalan tauhid dan aqidah.

Kemana ulama?

Ditengah penjajahan kebudayaan seperti ini, yang membuat saya bertanya adalah, kemana para ulama, ustdaz, kiai, aktifis Islam, atau partai islam yang mengaku lembaga yang paling bermoral sekalipun?  Kemana mereka? Dulu ketika Inul mengampanyekan goyang ngebor, jutaan manusia  yang mengaku aktifis Islam menyeruak protes. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai melarang Inul tampil di depan publik. Sementara para koruptor tidak pernah mendapat fatwa larangan untuk tampil di gedung perlemen menjadi wakil rakyat.

Memang, ini bukan hanya tanggungjawab para ulama, melainkan tanggungjawab kita bersama, untuk bersatu memadukan niat baik, untuk kemudian melakukancounter budaya. Solusinya, aktifis Islam harus bisa menulis naskah sinetron, menyutradarai. Umat islam juga harus memiliki televisi yang berkelas, islam juga harus menguasai alat produksi, sehingga ”ajaran sesat” dari manapun datangnya dapat diantisipasi. Sebab, sebuah kemunkaran, tidak akan selesai dengan imbauan, ceramah melalui mimbar jumat dan pengaajian. Tetapi melakukan aksi yang sama seperti para pebisnis sinetron, juga bagian upaya dalam mengimbangi ”kemunkaran televisi” dengan ”kebaikan televisi”. Kalau kita bisa bersatu menjadi besi untuk memukul mundur setiap lawan, kenapa kita harus menjadi ”kerupuk” yang akan layu terkena air? Masalahnya kemudian, kenapa kita hanya sibuk dengan urusan kita masing-masing, tanpa berpikir bagaimana generasi kita kelak, kalau ternyata pendangkalan tauhid dan aqidah itu makin merajalela?(*)

Tanjung Enim, 27 Juni 2007

(Penulis adalah Jurnalis dan Pelaku Sastra Indonesia tinggal di Palembang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s