“Orang” atau Orang

Mengejar “Tanda Kutip”
Dalam istilah bahasa jawa dikenal istilah “wis dadi wong” sedangkan dalam tradisi sunda dikenal juga idiom “ geus jadi jalma “ hingga dalam bahasa Indonesia dikenal “ sudah jadi orang “. Jika ditelusuri sejarahnya mungkin dua ungkapan dalam bahasa jawa dan sunda jauh lebih tua dan mungkin juga lebih mempunyai muatan makna. Itu tidak akan kita persoalkan.
Yang ingin saya wacanakan ialah apa saja yang menjadi syarat untuk disebut “dadi wong”, “jadi jalma” atau “jadi orang”. Diakui atau tidak syaratnya adalah keberlimpahan materi plus ketenaran beserta anak cucunya. Namun apakah itu benar adanya, untuk layak dikatakan orang itu harus mempunyai syarat-syarat tersebut?, perhatikan matematika ini :

I.
Orang + kekayaan = “Orang”
Orang + Kekayaan + Ketenaran = “Orang Banget”
5 + 2 = “7”
5 + 2 + 3 = “10”
( Kesimpulannya untuk menjadi “orang” dia harus kaya apalagi terkenal )

II.
“Orang” – Kekayaan = orang
“Orang Banget” – Kekayaan – Ketenaran = orang
“7” – 2 = 5
“10” – 2 – 3 = 5
( kesimpulannya untuk menjadi orang yang bebas dari tanda kutip maka harus tanpa kekayaan dan ketenaran )

Pertanyaan selanjutnya manakah yang benar-benar orang?
Tidakkah semakin tinggi jabatan, semakin banyak kekayaan, justru malah mengikis esensi keorangan/kemanusiaannya itu sendiri. Berjalan dari orang menjadi “orang” – mengejar tanda kutip.

Namun jangan diambil kesimpulan juga bahwa untuk menjadi orang, kita harus tidak terkenal dan tidak kaya. Tapi jadilah orang kaya dan terkenal namun tidak kehilangan esensi kemanusiaan/keorangannya.

Wallahu A’lam [.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s