Jogja untuk WS Rendra

Puisi untuk 2 Tahun WS. Rendra, 7 Agustus 2011 di Karta Pustaka Yogyakarta

RENDRA DALAM MAKNA

Rendra yg kami cintai

Berpindah rumahnya

Dari penglihatan dan pengetahuan

Menuju rumah sejati abadi

Yg bernama makna, keyakinan dan cinta

Kemarin kami melihatnya

Sehingga tak sanggup memaknainya

Kemarin kami sibuk bersombong merumuskan pengetahuan tentangnya

Sehingga terbentang jarak untuk mampu mencintainya

Kemarin bersamanya kami semua terpenjara oleh eksistensi dan kepentingan

Sehingga menjadi terlalu bodoh untuk menemukan keyakinan tentang ruh Tuhan yang bersemayam di dalam jiwa puisi-puisinya

Rendra yang kami cintai

Maafkanlah kekerdilan kami

Yg terus kami festivalkan sampai hari ini

Kekerdilan atasmu

Buta makrifat padamu

Tabir tertutup di depan kasyaf cintamu

Wahai Tuhan yg Rendra telah berada padamu

Lindungilah kami semua dari bunyi mulut para pentakabur ilmu

Yang mengipas-ngipaskan kata-kata bahwa kehidupan ini adalah dan hanyalah kehidupan ini

Di mana kematian merupakan ujung darinya

Wahai Tuhan, kami tidak berduka

Karena Rendra tak kan pernah berakhir

Wahai Tuhan, kami tidak kehilangan Rendra

Karena Engkau sendiri yang menyatakan bahwa para Syahid sama sekali tidaklah pernah mati

Dan karena dengan segala suka cita kamipun menyatakan

Bahwa Rendra lebih hidup dalam jiwa kami melebihi saat ia hidup sejenak selama waktu  yg Engkau pinjamkan kepadanya

Wahai Tuhan, orang yg duduk paling dekat di sisi-Mu bukanlah orang besar, orang hebat atau orang masyhur

Orang yg duduk paling dekat di sisi-Mu, adalah orang yang bekerja keras untuk mencari-Mu

Wahai Tuhan, orang yg paling berjarak dari maqam-Mu bukanlah orang yang berwarna hijau, merah atau putih; juga bukan orang yang dunia menjunjungnya atau merendahkannya, yang peradaban manusia mengakuinya atau mencampakkannya

Orang yg paling berjarak dari maqam-Mu, orang yang mencari-Mu dengan bekal cinta dan rindu

Wahai Tuhan, hamba yang Engkau terima di pihak-Mu dengan ketenteraman dan keteduhan

Bukanlah orang-orang utama dalam iman, ilmu, estetika atau kawaskitan

Hamba yang Engkau terima di pihak-Mu dengan ketenteraman dan keteduhan, adalah hamba yg rela mentiadakan dirinya, melebur pada-Mu, hingga hamba tak ingat lagi nama dan dirinya sendiri, karena dipenuhi oleh nyanyian terindah “La ilaha illlallah, La ilaha illallah”

Kadipiro 21.43 WIB, 7 Agustus 2011.

Muhammad Ainun Nadjib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s