Ayah saya penyanyi “Tembang Setan”

Pelantun tembang-tembang teduh dari Letto ini berbagi kisah berjumpa dengan Nabi, arwah Freddy Mercury, hingga kenakalan membakar pabrik.
Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah putra budayawan Emha Ainun Nadjib dengan istri pertamanya, Neneng Suryaningsih. Kini, dia melejit dengan nama sapaan yang berasal dari rekan kuliahnya di Jurusan Matematika dan Fisika, Universitas Alberta, Edmonton, Kanada. Pria kelahiran 10 Juni 1979 ini memotori terbentuknya Letto. Lagu Letto di album perdana Truth, Cry, and Lie yang sendu telah merebut perhatian.  Album kedua Letto, Don’t Make Me Sad, memiliki misi khusus karena sebagian hasil penjualan akan didedikasikan untuk pembuatan buku dengan huruf braile. Inilah vokalis, keyboardist, dan pujangga yang menghias lirik Letto dengan kata-kata puitis yang kontemplatif.

Mengapa Anda dipanggil Noe?
Sejarahnya panjang karena teman-teman saya di Kanada lebih mudah menyebutnya dari panjang nama saya yang asli.

Lagu Letto yang paling sulit dinyanyikan?
“Innosense’s Innosence” karena lagunya datar. Enaknya yang santai, tapi nggak emotionalless.

Kapan Anda menyadari kalau Anda bisa bernyanyi?
Sampai sekarang saya nggak sadar kalau saya bisa menyanyi (tertawa).

Bagaimana peran ayah Anda dalam pendidikan musik Anda?
Nggak punya peran sama sekali. Kalau bermusik kan macem-macem. Ngomong aja pakai musik. Kalau nggak pakai irama nggak enak ngomongnya. Perannya yah ngajarin ngomong. Alat musik nggak pernah ngajarin.

Lagu pertama yang dinyanyikan yang membuat Anda jadi vokalis?
(Tertawa) Itu pertanyaan susah. Soalnya nggak ada yang mau jadi vokalis. Jadi, saya terdakwanya. Karena nggak ada korban lain aja.

Mengapa selalu menggunakan topi kupluk?
Kata orang sih bagusnya pakai kupluk. Saya pakai kupluk sudah lama.

Apa alasan Anda pernah bercita-cita sebagai pengantar pos?
Setahu saya orang pos itu kaya dan murah hati. Karena sering ngirimin wesel ke rumah. Kan orangtua saya kerja sebagai penulis. Jadi, dapat uang dari kiriman wesel. Saya pikir kok tukang pos ini kaya banget ngasih duit terus.

Apa perbedaan yang Anda rasakan saat dibesarkan di Lampung dan Yogya?
Satu, setting-nya saja yang berbeda, yang satu di desa, yang satu di kota. Nilai-nilainya banyak yang bisa diserap juga. Semua jadi wacana yang baik. Saya tuh culture shock sama semua hal. Dari ngeliat tangga berjalan sampai pesawat terbang itu melalui syok.

Paman Anda kan memberikan kumpulan lagu-lagu Queen. Lagu apa yang paling berkesan?
“Lilly of the Valley” karena lagunya bagus dan paling ‘nyambung’ sama saya.

Sebagai pembicara seminar, apa Anda pernah mengalami debat kusir yang melelahkan?
Banyak, tapi saya nggak ingat detailnya. Sering juga yang isinya nggak mau kalah. Biasanya masalah yang mengandung interpretasi, seperti pemahaman agama, pemahaman lirik. Seperti, “Apa maknanya lagu Bento?” Yah, debat kusir jadinya. Orang bebas menginterpretasi kok. Nggak penting merasa interpretasinya yang paling benar. Diskusi yang obyektif yang paling enak, mulai dari kuku sampai genetik.

Apa topik diskusi teraneh?
Banyak. Tapi, nggak penting nggak apa-apa yah? Rambut sama kuku. Mengapa ada rambut di atas, alis, kumis, di mana-mana? Tapi, ada di tiap tempat dan panjangnya beda, mereka tahu. Itu bisa panjang tuh (diskusinya).

Sebagai penggemar Queen, apa yang akan Anda katakan seandainya Freddy Mercury bangkit dari kubur?
Eh, gimana kabarnya, Setan? Nggak deng (tertawa). Kapan-kapan diajak tur yah!

Lagu “Bunga di Malam Itu” berisi tentang perjumpaan dengan Nabi Muhammad SAW, apa peristiwa yang menginspirasi Anda?
Siapa yang nggak ingin ketemu sih? Itu kalau diceritakan saya merasa nggak nyaman. Cerita personal dia ketemu dengan siapa. Saya cerita tentang kekangenannya, bukan peristiwanya. Ada peristiwa yang spesifik. Tapi, nggak mau saya ceritakan (tertawa).

Mengapa Anda tidak menjadi penyanyi tembang religi seperti Ayah Anda?
Potong leher saya kalau Ayah saya penyanyi lagu religi. Ayah saya penyanyi Tembang Setan (tertawa). Karena kita tidak percaya dengan lagu religius. Kalau ada lagu religius berarti ada lagu tidak religius dong. Padahal semua hal menurut kita bisa diambil sisi religiusnya. Mau ngomong kambing sampai tai sapi, semuanya bisa religius juga. Bukan lagunya, tapi bagaimana kita mengambilnya.

Apa yang ingin Anda capai saat berumur 30?
Nggak boleh yah ngomongin mati?

Terserah…
Saat saya umur 30, saya ingin pandangan saya jelas. Tentang banyak hal. Wacana sangat banyak dan belum semua bisa masuk dalam kotak-kotaknya. Ada yang masih blur, di gray area. Itu sebenarnya apa. Semoga saat umur 30, semua bisa terjawab, bisa masuk ke dalam kotaknya sendiri-sendiri sehingga lebih jelas memandang dunia.

Anda memadukan lirik cinta yang komersial dengan nilai filosofis, seberapa patuh Anda pada tuntutan industri?
Industri sekarang nggak ada yang jelas dalam tolok ukur. Tolok ukurnya selalu penjualan. Itu pun selalu teori antara penjualan terhadap karya seni. Samapi sekarang belum ada rumus statistiknya laku seperti apa, menjual seperti apa. Jadi, karena ukuran mereka nggak jelas terhadap suatu karya yah saya juga bikin batasnya nggak jelas, suka-suka hati.

Ada media yang pernah menghujat Letto karena hanya mampu membawakan lagu tentang cinta dan pemujaan pacar yang terdengar seperti keabadian di neraka. Komentarnya?
(Tertawa) Jempol buat Anda. Silahkan. Kedalaman Letto itu bukan dari liriknya. Liriknya itu cermin bagaimana diri Anda sendiri. Kalau Anda ingin melakukan pencarian yang holistik, di situ bisa menemukan. Itu bisa diambil dari banyak sisi. Yang Anda ambil itu yang Anda inginkan. Kita juga sadar nggak semua orang punya sudut pandang yang sama, cara mencerna yang sama, gak semua orang punya IQ yang sama (tertawa). Terserah, kita senang-senang sajalah.

Apa kenakalan yang paling Anda sesali?
Membakar pabrik.

Wah, kenapa itu?
Karena saya kriminal (tertawa). Sudah lama, kenakalan anak kecil. Anak-anak muda kan isinya berkelahi atau apa. Anak ini saya ajak berkelahi nggak mau. Tapi, kerjaannya ngerusakin sepedaku setiap saat. Yah, pabrik Bapaknya aku bakar sekalian (tertawa).

Bagaimana hubungan Anda dengan orang itu sekarang?
Ketawa-ketawa aja. Sampai sekarang dia nggak tahu yang bakar aku (tertawa).

Drugs? Alkohol?
Belum pernah. Ada pilihan untuk tidak.

Lagu apa yang membuat Anda merasa memiliki suara yang seksi?
“SMS”. Pernah menyanyikan sendiri di kamar mandi. “Bang, SMS siapa ini, Bang?” (menyanyi). Tapi, itu menurut saya sendiri (tertawa).

Anda pernah mengatakan industri musik sekarang instan. Berapa lama Anda memprediksi karier Letto?
Bisa jadi instan juga. Semua hal yang instan adalah kemasannya. Jadi, kita mencoba menuju pada hal-hal yang kemasan tidak selalu instan. Kita membuat sesuatu yang bernilai. Sepuluh tahun dari sekarang lagu “Sandaran Hati” akan mempunyai makna yang fresh juga.

Pernah terpikir untuk solo karier?
Pernah. Tapi, nggak di musik. Yah, jadi researcher atau jadi orang kaya (tertawa).

Penggemar Anda di Malaysia ingin menjadikan Anda sebagai suami mereka. Apa pernah ada fans yang melamar Anda?
Ada yang kayak gitu. Mereka nggak ngirim surat ke aku. Mereka ngirim surat ke orangtua aku. (Ketawa-ketawa semua).

Anda mengambil jurusan Matematika dan Fisika di Kanada. Bagaimana penerapannya dalam hidup Anda?
Matematika dan Fisika saya adalah teori. Penerapannya adalah di atas kertas dan di komputer. Ini tetap saya lakukan sekarang. Kalau punya ide saya tulis di kertas dan hitung-hitungan sendiri kalau ngaco.

Mengapa nggak jurusan musik?
Nggak mampu otak saya (tertawa). Matematika dan Fisika saja yang lebih pasti.

Sebagai anak Cak Nun, kapan saat Anda merasa tidak religius?
Ketika saya tertawa terlalu keras. Ketika saya menangis…Saya nggak pernah menangis deng. Ketika semua hal keterlaluan saja.

Anda tak pernah menangis sekarang. Apa saat ini Anda sedang bahagia?
Nggak. Saya sudah kehilangan poin akan air mata (tertawa).

Apa pertanyaan yang paling mengganggu pikiran dan Anda belum menemukan jawaban?
Tuhan itu suka bercanda yah. (Tertawa) Pertanyaan di otak saya itu, ‘Candaan Tuhan yang mana yah?’ Itu tidak bisa didiskusikan. Itu kemesraan sama Tuhan sendiri. Kesandung, mulutnya nyonyor, ‘Wah, Tuhan bercanda neh sama kita.’ (Ketawa-tawa aja).

Lagu apa yang ingin Anda dengar saat sekarat?
Saya dengerin orang Dzikir mungkin, lebih menenangkan. Kalau sekarat kan ketakutan banget pasti.

MY LIST

Buku favorit: Bukunya Joe Maguijo, CXL karena idenya bagus.
Album favorit: Innuendo dan Miracle (Queen) karena beda banget.
Situs favorit: Sains dan caviar audio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s